Mengenal Layanan OTT dari Sudut Pandang Dosen (Transkrip Wawancara)
- wottching
- Dec 7, 2020
- 3 min read
Updated: Dec 15, 2020

Transkrip wawancara mengenai layanan OTT dengan Pak Detta Rahmawan
Nama narasumber : Detta Rahmawan, S.I.Kom., MA.
Pekerjaan : Dosen Prodi Manajemen Komunikasi
Tanggal : 1 Desember 2020
Wawancara via zoom
1. Apa yang membuat layanan OTT ini jadi semakin besar dan dikenal? (Terutama di Indonesia yang masih aktif menonton televisi kabel)
Jawaban : Faktor utamanya mungkin dari penyebaran internet yang makin merata dan juga di generasi millennial Y dan X, Y dan Z yang makin banyak terpapar dengan berbagai hal yang berkaitan dengan internet baik di pekerjaan maupun di aktivitas yang lain. Jadi itu semua yang kemudian membuat OTT jadi makin banyak dan makin diminati dan kelas juga, kalau kita bicara kelas A dan B, itu juga pilihan hiburan mereka banyak, dan OTT merupakan salah satunya. Kalau bicara kelas C dan D kan mungkin hiburannya terbatas, jadi masih pakai preferensi public.
2. Apa yang menyebabkan perusahaan televisi seperti MNC Group membuat layanan OTT yaitu RCTI+?
Jawaban : Yakan prinsip kapitalisme dong, maksudnya dengan modal yang mereka punya kan dapet cuan yang makin besar, harus dapet keuntungan sebesar-besarnya. Jadi ibaratnya yang tadinya punya nasi telor dan kornet, jualan nasi goreng, kemudian ada pasar yang menginginkan itu bisa dibuat menjadi nasi gila, ya sekalian aja bikin nasi gila dan nasi goreng, kan gitu. Itu yang namanya integrasi vertical kalo dalam model bisnis media. Karena pasar kan harus diikuti, teknologi semakin berkembang, mereka juga harus mengikuti.
3. Bagaimana pendapat bapak terkait banyaknya penjualan layanan OTT yang illegal?
Jawaban : Mungkin bukan layanan OTT illegalnya tapi masalah penjualannya. Saya melihatnyaitu sama seperti tadi, itu masalah pasar, jadi memang ada pasar yang membutuhkan yang seperti itu ya, supply n demand kan. Kemudian ada yang tidak mau ketinggalan tapi padahal modalnya dia punya cuman 30 ribu untuk hiburannya, ya mungkin dengan cara itu mereka bisa ikutan. Dan ini juga berkaitan dengan masyarakat kita sendiri yang mungkin masih melihat kalau hiburan itu harus murah atau seminimal mungkin effort yang dikeluarkan, dan masalah akses juga, akses yang berkaitan dengan seperti itu kan memang banyaknya di kalangan menengah keatas, makanya ketika kalangan menengah kebawah yang sebelumnya tidak punya pengetahuan bahwa OTT kitu seperti apa, nah karna itu jadi muncul lah bisnis seperti itu
4. Menurut bapak apakah layanan OTT dari dalam negeri seperti bioskoponline dapat berkembang dan terkenal di luar negeri?
Jawaban : untuk di luar negerinya saya masih belum bisa punya prediksi. Karena bioskoponline juga masih di tahap awal, dan kayanya untuk pasar Indonesia pun mereka juga belum balik modal, dan masih butuh waktu yang cukup lama, karena kita harus liat juga mengenai perkembangan dari bisnisnya seperti apa. Jadi jangankan di luar negeri, di dalam negeripun kita belum bisa melihat perkembangannya seperti apa
5. Apakah layanan OTT dapat menggantikan layanan penyedia film offline (bioskop), atau bahkan televisi?
Jawaban : ngga sih, jadi ya dari dulu kalo kita melihat evolusi media, kayanya gaakan ada media yang 100% digantikan gitu. Sampai sekarang, kalo kita mau mencari mesin tik yang manual juga masih ada, mungkin masih ada yang menggunakan itu sebagai koleksi. Vinyl masih ada yang pake, itu juga jadi bahan untuk prestis. Kaset masih ada yang jualan. Buku masih banyak bahkan kalo di industri komik penjualan buku komik yang cetak malah meningkat dibandingkan yang online. Jadi gaada sih yang akan 100% menggantikan. Menurut sejarah tentang media, belum pernah ada yang sampai betul betul punah dan sampai kedepan mungkin atau setidaknya mungkin sampai 10 tahun kedepan OTT gaakan bisa gantiin TV dll
6. Mengapa website nonton film yang illegal itu masih ada, bahkan yang sudah di-blacklist tetap saja kembali, padahal mereka tahu itu salah?
Jawaban : Model bisnis yang modelan streaming illegal itu kan sebenarnya mereka ngambil dari pendapatan iklan online. Jadi dengan sebanyak-banyaknya orang terpaksa memencet banner yang tersedia. Jadi itu sebetulnya permasalahan dari model bisnis internet sendiri yang banyak disuplai oleh iklan-iklan digital yang bahkan sebetulnya yang mementingkan traffic, atau maksudnya yang penting ada banner yang bisa dipencet. Sebetulnya tuh prinsipnya kalo dalam model bisnis kenapa masih ada, ya sama saja dengan kaya kita melihat kenapa media banyak yang clickbait gitu. Ya karena iklan digital. Dan tentu saja tadi yang saya bilang bahwa supply n demand tentang banyak orang yang masih tidak memedulikan masalah legalitas, hak cipta ,dll. Ya jika masih seperti itu, bisnis kaya gitu akan tetap ada.



Comments